Teknologi Face Detection untuk Cegah Penipuan Klaim Asuransi

Face Detection

Teknologi face detection membantu mencegah penipuan klaim asuransi dengan memperketat verifikasi klaim dan memudahkan proses onboarding nasabah. Digitalisasi yang diterapkan dalam bisnis keuangan memang memberikan kemudahan akses untuk nasabah. 

Namun di sisi lain, digitalisasi juga membuka peluang adanya risiko pada keamanan siber yang dilakukan oleh oknum tak bertanggung jawab dengan melakukan kecurangan asuransi. 

Artikel berikut akan membahas mengenai bagaimana cara mengatasi risiko penipuan klaim asuransi dengan face detection di era serba digital ini.

Risiko Penipuan Klaim Asuransi di Era Digital

Adanya peningkatan transaksi keuangan secara daring membuka peluang penipuan asuransi dengan modus operandi yang semakin canggih. Hal tersebut yang menjadikan teknologi face detection pun mempunyai peran penting untuk cegah risiko penipuan asuransi. 

Dahulu, penipuan asuransi dilakukan dengan melakukan pemalsuan dokumen fisik. Kini penipuan dilakukan dengan memanfaatkan teknologi seperti AI atau kecerdasan buatan untuk menipu sistem verifikasi yang dimiliki perusahaan asuransi.

1. Penggunaan AI Deepfake

Dikutip dari Keepnet Labs (2025), tercatat jumlah serangan berbasis deepfake meningkat sekitar 680% daripada tahun sebelumnya. 

Penipuan asuransi bisa terjadi dalam bentuk sebuah panggilan telepon dari seseorang dengan suara yang mirip dengan agen asuransi. Bisa juga datang dalam bentuk panggilan video dari anggota keluarga yang terlihat panik dan kondisi mendesak meminta uang. 

Berikut beberapa modus penipuan asuransi dengan AI deepfake:

  • Deepfake menggunakan foto atau video mobil yang alami kerusakan untuk ajukan klaim asuransi mobil palsu.
  • Deepfake foto atau video yang meniru sebagai pemilik akun asuransi untuk mendapatkan akses pada akun asuransinya
  • Penggunaan serangan suara sintetis untuk meniru suara sehingga membuat panggilan telepon terdengar sangat asli dan sah. Model penipuan ini banyak digunakan untuk menipu korban sehingga mau mengungkapkan informasi data pribadi hingga mengotorisasi transaksi penipuan.
  • Penipuan identitas tingkat lanjut untuk membuat dan mengajukan permohonan serta klaim asuransi palsu.

2. Pencurian Data Pribadi Pemilik Asuransi

Pelaku penipuan melakukan pencurian data pribadi seseorang untuk membeli polis asuransi kemudian mengajukan klaim atas nama korban tanpa sepengetahuan pemiliknya. Penipuan juga bisa terjadi ketika data pribadi pemilik asuransi dicuri kemudian disalahgunakan oleh pihak yang tak bertanggung jawab. 

Umumnya, data pribadi yang bisa disalahgunakan meliputi data foto KTP, rekening bank, nomor wajib pajak, akte kelahiran dan rekam medis pasien.

3. Klaim Asuransi “Hantu”

Sebuah modus penipuan yang dilakukan dengan mengajukan klaim atas layanan medis atau kerusakan barang yang diasuransikan yang sebenarnya tak pernah terjadi. Penipuan dilakukan dengan dukungan dokumen digital palsu yang dibuat dengan bantuan teknologi AI sehingga terlihat sangat autentik.

4. Penggunaan Aplikasi Ganda

Penipuan asuransi ini dilakukan oleh pelaku dengan cara membeli polis dari beberapa perusahaan asuransi yang berbeda untuk satu identitas yang sama. Kemudian pelaku akan mengajukan klaim ke semua perusahaan tersebut meski kerugian yang dialami kecil.

Modus penipuan tersebut bisa memberikan dampak finansial dan reputasi sebagai berikut:

  • Kerugian secara finansial mencakup pembayaran klaim palsu, biaya investigasi, dan audit forensik untuk membuktikan adanya manipulasi secara digital
  • Meningkatnya loss ratio yang akan akan menekan profitabilitas dan menimbulkan adanya ketidakseimbangan antara pendapatan premi dan beban klaim asuransi
  • Merusak reputasi dan kepercayaan pelanggan karena klien menganggap perusahaan asuransi tak siap menghadapi ancaman teknologi modern
  • Untuk klien asuransi yang jujur, penipuan asuransi mempunyai dampak jangka panjang yang bisa menghancurkan dan membutuhkan waktu lama untuk memulihkan kerugian waktu serta uang

Peran Face Detection untuk Industri Asuransi

Penipuan asuransi kini juga bisa dicegah dengan memanfaatkan teknologi AI, yaitu dengan menggunakan teknologi face detection

Face detection adalah sebuah teknologi kecerdasan buatan yang memungkinkan sistem layanan asuransi untuk mengidentifikasi atau memverifikasi wajah berdasarkan gambar atau video. 

Beberapa peran face detection untuk industri asuransi diantaranya yaitu untuk tingkatkan keamanan transaksi dengan cara:

  1. Melakukan verifikasi identitas untuk pembukaan polis asuransi.
  2. Mencegah adanya risiko fraud klaim asuransi.
  3. Otentikasi pengguna pada saat login ke akun atau pada saat akan melakukan pengajuan klaim asuransi.
  4. Mencegah terjadinya penipuan identitas sehingga bisa memverifikasi identitas pemegang polis untuk memastikan klaim yang diajukan benar-benar oleh pihak yang sah.
  5. Mempersingkat proses verifikasi sehingga proses onboarding pengguna bisa lebih cepat selesai.
  6. Meningkatkan produktivitas operasional perusahaan asuransi.

Penerapan Face Detection untuk Asuransi

Penerapan face detection dalam industri asuransi berperan penting untuk mencegah penipuan klaim (fraud). Langkahnya dengan memastikan identitas nasabah benar dan proses klaim dilakukan secara sah. 

Berikut penerapan face detection pada industri asuransi:

1. Verifikasi Identitas Pemegang Polis

Face detection digunakan untuk mencocokkan wajah nasabah saat pengajuan klaim dengan data biometrik yang tersimpan saat pendaftaran polis. Hal ini mencegah klaim diajukan oleh pihak lain yang tidak berhak atau menggunakan identitas palsu.

2. Mencegah Klaim Ganda atau Fiktif

Sistem dapat mendeteksi wajah yang sama digunakan pada beberapa pengajuan klaim berbeda. Jika ditemukan kemiripan identitas pada klaim yang mencurigakan, sistem akan menandainya untuk investigasi lebih lanjut.

3. Deteksi Spoofing & Manipulasi Identitas

Teknologi face detection saat ini dilengkapi liveness detection, sehingga dapat membedakan wajah asli dengan foto, video, atau topeng. Teknologi ini mencegah upaya penipuan menggunakan foto atau rekaman orang lain saat klaim online.

4. Validasi Klaim Jarak Jauh (Digital Claim)

Dalam klaim berbasis digital, face detection memungkinkan nasabah melakukan verifikasi wajah secara real-time tanpa perlu datang ke kantor asuransi. Proses menjadi lebih cepat namun tetap aman, sekaligus memberikan pengalaman pengguna yang baik.

5. Audit & Investigasi Klaim Mencurigakan

Data wajah yang terekam dapat digunakan sebagai jejak digital untuk audit internal dan investigasi klaim bermasalah. Hal ini membantu perusahaan asuransi memiliki bukti tambahan saat terjadi sengketa klaim.

Cegah Fraud Asuransi dengan Ekosistem Privy   

Agar bisa mencegah fraud asuransi, Anda bisa memanfaatkan ekosistem Privy. Privy menyediakan layanan pengelolaan identitas digital dengan keunggulan berikut:

  • Verifikasi identitas dengan standar tinggi.
  • Terhubung langsung dengan basis data kependudukan yang berotoritas resmi.
  • Setiap dokumen polis yang ditandatangani dengan layanan TTE tersertifikasi Privy mempunyai kekuatan hukum.

Dengan menggunakan layanan Privy, perusahaan asuransi bisa meminimalisir terjadinya penipuan asuransi. Layanan Privy juga memudahkan dan mempercepat proses administrasi dan memberikan pengalaman pengguna yang mudah serta aman.

Manfaatkan juga penggunaan TTE tersertifikasi yang sah dan diakui oleh hukum di Indonesia. Privy telah dipercaya oleh lebih dari 65 juta pengguna terverifikasi dan 155.000+ perusahaan yang menjadi pelanggan. 

Hanya butuh 1 menit saja, Anda sudah bisa menandatangani dokumen elektronik. Privy memastikan dokumen Anda aman, sah, dan mudah dikelola. 

Mengapa Pilih Privy?

  • Legalitas Terjamin: Tanda tangan elektronik Privy dilengkapi Sertifikat Elektronik yang diakui oleh pemerintah.
  • Keamanan Tingkat Tinggi: Data Anda dilindungi dengan teknologi enkripsi canggih.
  • Efisiensi Waktu dan Biaya: Proses administrasi lebih cepat tanpa mengurangi legalitas.

Ingin mengetahui lebih lanjut? Hubungi Privy sekarang!

Frequently Asked Questions

Apa yang dimaksud dengan face detection?

Teknologi face detection adalah teknologi yang memastikan objek yang terdeteksi adalah bagian wajah dengan menganalisis karakteristik seperti bentuk hidung, mata dan mulut.

Bagaimana cara kerja teknologi face recognition?

Cara kerja dari teknologi face recognition adalah dengan melibatkan empat tahap utama yaitu deteksi wajah, analisis wajah, pencocokan dan verifikasi atau identifikasi.

Apa saja hal yang menyebabkan klaim asuransi menjadi sulit untuk dilakukan?

Risiko yang dialami tak ditanggung oleh asuransi, klaim tak sesuai dengan persyaratan polis, data pemilik asuransi tak sesuai, dan pengajuan klaim asuransi yang melebihi batas waktu.

Tinggalkan Balasan