Digital culture telah mengubah kehidupan masyarakat sehari-hari hingga sisi profesional seperti dalam berbisnis. Budaya digital ini bisa dimanfaatkan sebagai fondasi ideal untuk transformasi bisnis modern, tapi harus dengan manajemen yang tepat.
Simak lebih lanjut pengertian, manfaat, penerapan, dan tantangan digital culture.
Apa Itu Digital Culture?
Digital culture adalah kombinasi antara cara berkomunikasi, cara kerja, dan kebiasaan yang dipengaruhi nilai-nilai digital. Misalnya saja perkembangan media sosial yang telah mengubah kehidupan sehari-hari. Digital culture erat kaitannya dengan transformasi digital.
Anda kini bisa lebih mudah terhubung ke khalayak luas dan mengurus pekerjaan lebih cepat berkat transformasi digital. Baik itu dalam lingkup kantor maupun bisnis, digital culture bisa menunjang fleksibilitas dan efisiensi. Tim bisa bekerja lebih mudah dan cepat yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas.
Budaya digital dipengaruhi oleh platform, tools, layanan atau aplikasi digital. Layanan digital tersebut bisa digunakan untuk komunikasi, marketing, hingga kolaborasi. Intinya jika semakin sering bidang digital dimanfaatkan, bisa membentuk kebiasaan yang disebut digital culture.
Untuk bisnis, biasanya digital culture ini diperlukan untuk otomatisasi tugas, menyesuaikan kebutuhan pelanggan, dan meningkatkan relasi.
Manfaat Digital Culture untuk Bisnis
Bisnis yang menerapkan digital culture dengan baik bisa mendapatkan keuntungan. Untuk mengikuti tuntutan pasar, pendekatan digital sering kali menjadi prioritas untuk bisnis. Berikut untuk lebih jelasnya manfaat budaya digital untuk bisnis:
1. Interaksi Lebih Mudah
Perkembangan digital bisa memberikan berbagai inovasi termasuk cara berinteraksi yang lebih efisien. Digital culture memudahkan interaksi antara tim, personil, atau departemen tanpa hadir secara fisik. Kebiasaan menggunakan aplikasi teleconference membuat kolaborasi lebih fleksibel dilakukan.
Saat diskusi dibutuhkan, tim bisa membuka gadget untuk terhubung. Meski satu sama lain berada di lokasi berbeda, tugas tetap bisa dijalankan.
2. Manajemen Data Lebih Optimal
Terutama untuk bisnis skala besar, begitu banyak data yang harus dikelola. Transformasi digital membuat dokumen kertas semakin jarang digunakan. Bisnis sekarang lebih memilih mengarsipkan data dalam file digital.
Jika ingin dibagikan, Anda cukup memakai email atau media sosial saja. Untuk dokumen penting, biasanya ditambahkan stempel elektronik atau tanda tangan elektronik tersertifikasi agar sah secara hukum.
3. Lebih Terbuka
Lingkungan bisnis bisa lebih terbuka karena digital culture bisa menunjang transparansi. Siapa saja bisa berbagi wawasan, berita, atau kabar terkait bisnis dengan mudah dan cepat. Bisnis bisa menentukan mana saluran yang dipakai untuk berbagi informasi internal.
4. Adaptasi Lebih Baik dengan Tren Modern
Digital culture yang semakin kental bisa membiasakan tim bisnis beradaptasi dengan tuntutan pasar modern. Tim bisa lebih tanggap dan responsif terhadap perubahan-perubahan.
Jadi, tidak butuh banyak usaha dan waktu untuk beradaptasi dengan berbagai tren modern jika sudah punya budaya digital.
Penerapan Digital Culture dalam Transformasi Bisnis
Digital culture bisa memberi manfaat berharga asalkan diterapkan dengan tepat. Budaya ini harus dikembangkan sesuai kebutuhan bisnis dan terarah. Berikut cara-cara agar digital culture bisa mendukung transformasi bisnis ke arah lebih baik:
1. Fokus Pada yang Pelanggan Butuhkan
Dalam penerapan budaya digital, harus berorientasi kepada pengalaman pelanggan. Anda bisa menggunakan berbagai tools untuk menganalisis perilaku dan preferensi pelanggan. Jadi, strategi yang nanti diterapkan tidak jauh-jauh untuk kepuasan pelanggan.
Jika pelanggan puas, bisa meningkatkan konversi dan loyalitas terhadap brand. Bisnis juga memiliki citra lebih baik karena dianggap lebih memperhatikan pelanggan.
Dengan digital culture berorientasi pelanggan, bisnis juga dianggap peka terhadap perkembangan digital secara profesional. Akan lebih baik lagi jika bisnis berhasil menyesuaikan layanan dengan personalisasi pelanggan.
2. Kejelasan Strategi
Anda dapat memulai dengan menentukan apa visi yang dituju dalam digital culture bisnis. Buatlah target terukur dan sajikan arah terstruktur untuk setiap tim bisnis. Strategi bisnis digital memang merupakan fondasi penting untuk transformasi bisnis tapi harus jelas semuanya.
Roadmap seringkali dibutuhkan agar tiap tim bisa tahu apa yang harus dilakukan dan untuk apa semua itu diperlukan. Semakin jelas strategi, cenderung bisa memberikan performa lebih optimal dan terhindar dari kesalahpahaman.
3. Peran Krusial Manajer
Pengembangan digital culture tetap butuh pemimpin agar strategi bisa terarah. Manajer bisa menjembatani arah bisnis dengan eksekusi agar tidak keluar jalur.
Tanpa keterlibatan manajer, tim bisa saja salah arah atau kehilangan moral. Manajer juga harus tahu terkait langkah eksekusi, infrastruktur yang dipakai dan aspek lainnya.
4. Kembangkan Infrastruktur
Jika ingin mengembangkan digital culture, tentunya harus ada sumber daya memadai terlebih dahulu. Infrastruktur untuk transformasi bisnis ada banyak sekali, mulai dari lingkup IoT, cloud, hingga AI.
Bisnis harus tahu harus berinvestasi ke teknologi mana yang paling bisa memberikan konversi.
5. Optimalkan Pelatihan
Pelatihan tidak kalah penting dalam membangun digital culture bisnis. Tidak semua bisa cepat beradaptasi dengan budaya ini berapapun usianya. Mereka yang lebih muda bisa saja cepat terbiasa dengan digital culture.
Dalam pelatihan untuk pengembangan digital culture, bisa difokuskan ke arah skill digital seperti analisis, keamanan siber dan otomatisasi.
Tantangan Digital Culture
Meski bisa memberikan banyak manfaat, sayangnya digital culture tidak luput dari tantangan yang perlu Anda antisipasi. Dengan memahami tantangan tersebut, Anda bisa lebih waspada terhadap risiko yang bisa terjadi saat mengembangkan digital culture.
Berikut beberapa tantangan digital culture yang perlu Anda ketahui:
1. Ketergantungan Digital & Distraksi
Saking seringnya terpapar produk digital cenderung dapat memicu ketergantungan. Jika ketergantungan ini bisa membuahkan hasil signifikan, itu tidak apa-apa. Tapi jika hanya untuk hiburan atau hal sepele yang bisa memakan banyak waktu, ketergantungan itu harus diatasi.
Digital culture bisa memberikan distraksi tertentu yang menghambat produktivitas. Platform digital bisa saja dimanfaatkan untuk keperluan lain di luar visi produktif.
Jika tidak diatasi, penyelesaian tugas bisa tertunda. Penting untuk mengawasi aktivitas digital terutama dalam jam-jam produktif.
2. Potensi Hoax
Aliran informasi secara digital rentan terpapar hoax atau informasi palsu. Sebenarnya berita dari mulut ke mulut juga bisa rentan kabar palsu, tapi bisa lebih sering terjadi di ekosistem digital. Penyebaran informasi digital itu sendiri begitu cepat dan sering kali susah dihentikan.
Dalam sisi profesional, hoax bisa berdampak pada reputasi atau citra brand. Pihak yang berkepentingan seperti pelanggan atau stakeholder bisa saja terpengaruh hoax tersebut.
Maka dari itu, penting untuk mengkaji informasi secara menyeluruh untuk terhindar dari informasi palsu.
3. Ancaman Privasi
Data pribadi Anda bisa saja bocor atau diakses oleh pihak tidak bersangkutan karena digital culture. Semakin sering Anda beraktivitas digital, semakin banyak juga jejak digital, seperti:
- Username.
- Alamat email.
- Nomor handphone.
- Lokasi.
Untuk perusahaan, penting untuk menyesuaikan standar keamanan siber yang selaras dengan regulasi. Jika perusahaan atau bisnis tidak berhasil mengamankan data pelanggan, bisa terkena sanksi tertentu.
Solusi Digital Culture: Pengelolaan Identitas dan Dokumen Digital Aman
Digital culture tidak bisa dihindari karena tetap bisa memberikan manfaat penting untuk lembaga, individu, bisnis atau perusahaan. Agar dokumen profesional bisa dikelola dengan aman, Anda butuh manajemen dokumen berkualitas seperti yang ditawarkan oleh platform Privy.
Privy menyediakan solusi verifikasi identitas ketat yang penting dalam digital culture seperti untuk tanda tangan elektronik. Anda bisa dengan mudah memberikan nilai legalitas pada dokumen digital dengan TTE tersertifikasi atau e-meterai jika diperlukan.
Privy telah dipercaya oleh lebih dari 65 juta pengguna terverifikasi dan 155.000+ perusahaan yang menjadi pelanggan. Hanya butuh 1 menit saja, Anda sudah bisa menandatangani dokumen elektronik. Privy memastikan dokumen Anda aman, sah, dan mudah dikelola.
Mengapa Pilih Privy?
- Legalitas Terjamin: Tanda tangan elektronik Privy dilengkapi Sertifikat Elektronik yang diakui oleh pemerintah.
- Keamanan Tingkat Tinggi: Data Anda dilindungi dengan teknologi enkripsi canggih.
- Efisiensi Waktu dan Biaya: Proses administrasi lebih cepat tanpa mengurangi legalitas.
Ingin mengetahui lebih lanjut? Hubungi Privy sekarang!
