{"title":"5 Contoh Surat Keputusan (SK) dan Cara Membuatnya","content":"\nKetika Anda duduk di bangku sekolah, mengikuti kegiatan organisasi, atau bekerja di sebuah perusahaan, kerapkali Anda akan mendapatkan surat keputusan yang dikeluarkan oleh lembaga tertentu. Surat keputusan biasanya berisikan informasi terkait peraturan, kegiatan, hingga perintah untuk melakukan sesuatu.\n\n\n\nAda banyak jenis surat keputusan yang bisa Anda lihat, mulai dari SK untuk pribadi hingga umum. Semua jenis itu memiliki tujuan sama, yaitu untuk memberi kepastian atau keputusan secara tertulis dari suatu organisasi atau institusi sebagai solusi atas permasalahan dengan berlandaskan undang-undang.&nbsp;\n\n\n\nLalu, apa saja unsur-unsur yang terkandung dalam SK dan apa sebenarnya fungsi dari pembuatan surat tersebut? Simak penjelasan di bawah ini untuk mengetahui jawabannya!\n\n\n\nPengertian Surat Keputusan\n\n\n\nSurat Keputusan (SK) adalah suatu bentuk dokumen tertulis yang berisi keputusan atau putusan resmi yang dikeluarkan oleh seseorang atau pihak yang berwenang untuk mengatur dan menetapkan kebijakan, keputusan, atau tindakan tertentu dalam suatu lembaga.&nbsp;\n\n\n\nSK seringkali diterbitkan oleh pemerintah, perusahaan, atau institusi lainnya sebagai bentuk arahan atau pengaturan internal. Surat keputusan biasanya dijadikan sebagai bukti resmi bahwa sebuah keputusan atau ketetapan telah diambil dan telah disetujui oleh pihak yang berwenang.\n\n\n\nUnsur-Unsur Surat Keputusan\n\n\n\nDalam membuat SK, tentu ada unsur-unsur penyusun surat agar informasi yang disampaikan bersifat resmi dan konkret. Berikut adalah beberapa unsur dari SK:\n\n\n\n1. Konsideran\n\n\n\nDalam membaca SK, mungkin Anda sudah tidak asing lagi melihat kata-kata, seperti \u201cmenimbang,\u201d; \u201cmengingat,\u201d; \u201cmemperhatikan,\u201d; \u201cmembaca,\u201d; dan \u201cmendengar,\u201d. Kelima kalimat tersebut merupakan sebuah pernyataan yang disebut konsideran.\n\n\n\nKonsideran ini berisikan landasan hukum yang menjadi pertimbangan dari pembuatan SK. Jadi, dalam bagian ini, penulis akan memuat hal-hal seperti peraturan, undang-undang, saran, keputusan-keputusan terdahulu, dan lain sebagainya.&nbsp;&nbsp;\n\n\n\nBiasanya sebuah SK akan menuliskan kalimat \u201cmenimbang,\u201d dan \u201cmengingat\u201d sebagai pembuka dasar hukum yang dipakai. Kedua kalimat ini memiliki syarat penulisan yang harus diikuti.&nbsp;\n\n\n\nSyarat penulisan kalimat \u201cmenimbang\u201d:\n\n\n\n\nBerisi tentang pokok-pokok pikiran yang menjadi landasan atau latar belakang pembuatan surat keputusan.\n\n\n\nPokok-pokok pikiran tersebut diuraikan menggunakan kalimat jelas dan efektif.\n\n\n\nSetiap pokok pikiran harus diawali dengan huruf abjad (a), (b), (c), dan seterusnya. Setelah itu, awali kalimat dengan kata \u201cBahwa\u201d dan akhiri dengan tanda baca titik koma (;).&nbsp;\n\n\n\n\nSyarat penulisan kalimat \u201cmengingat\u201d:\n\n\n\n\nMemuat peraturan, perundang-undangan, atau hukum yang menjadi landasan dasar kewenangan pembentukan sebuah surat keputusan.\n\n\n\nUrutan penulisan peraturan atau UU ditulis secara berurutan dengan diawali angka (1), (2), (3), dst. Peraturan tersebut perlu dicantumkan secara kronologis berdasarkan tanggal pembuatan atau penetapannya.\n\n\n\nAkhiri setiap poin peraturan dengan tanda baca titik koma (;).\n\n\n\n\n2. Desideratum\n\n\n\nBerikutnya, bagian isi sebuah SK bisa disebut dengan desideratum. Pada bagian ini, surat berisikan apa sebenarnya tujuan pembuatan SK. Tujuan ini bisa saja lebih dari satu tergantung kebutuhan dan urgensi dari surat tersebut.&nbsp;\n\n\n\n3. Diktum\n\n\n\nSetelah tujuan pembuatan surat telah dijabarkan, kini Anda perlu menyampaikan keputusan atau ketetapan akhir dari penulisan surat tersebut. Isi keputusan diawali dengan kata \u201cMemutuskan\u201d dan \u201cMenetapkan\u201d.\n\n\n\nFungsi Surat Keputusan\n\n\n\nBerikut adalah beberapa fungsi dari adanya pembuatan surat keputusan:&nbsp;\n\n\n\n1. Mengarahkan pada tindakan tertentu\n\n\n\nSK ditujukan untuk mengarahkan individu atau pihak tertentu melakukan sebuah tindakan. Arahannya ini dapat berupa menetapkan kebijakan, membuat tata tertib baru, pengangkatan pegawai atau anggota baru, atau pemberhentian pegawai atau anggota.&nbsp;\n\n\n\nDengan adanya SK, secara resmi seseorang yang dituju tersebut wajib melaksanakan perintah yang tercantum di dalamnya.&nbsp;\n\n\n\n2. Jaminan secara hukum\n\n\n\nSeperti yang sudah disebutkan pada bagian unsur, SK memiliki landasan hukum yang disebutkan dalam konsideran.&nbsp;\n\n\n\nHukum atau perundang-undangan ini berfungsi untuk memberikan jaminan kepada pihak penerima surat bahwa keputusan yang dibuat dilandaskan dengan peraturan resmi. Jadi, surat yang dituliskan pun memiliki jaminan legalitas hukum secara tertulis dan bukan dibuat secara sembarangan.&nbsp;\n\n\n\nContoh Surat Keputusan\n\n\n\nSetelah mengetahui unsur dan fungsi dari SK, berikut ada beberapa contoh penulisan SK yang biasa dibuat oleh organisasi\/perusahaan\/institusi:&nbsp;\n\n\n\n1. Contoh SK pengangkatan karyawan tetap\n\n\n\n\n\n\nSumber: Kita Lulus.\n\n\n\n2. Contoh SK pengangkatan karyawan kontrak\n\n\n\n\n\n\nSumber: Slide Share\n\n\n\n3. Contoh surat keputusan organisasi\n\n\n\n\n\n\nSumber: FTI Unmerpas.\n\n\n\n4. Contoh surat keputusan direksi\n\n\n\n\n\n\nSumber: Academia Edu.\n\n\n\n5. Contoh surat keputusan perusahaan\n\n\n\n\n\n\nSumber: Lez Get Real.\n\n\n\nCara Membuat Surat Keputusan\n\n\n\nPembuatan surat keputusan ternyata tidak sesederhana seperti membuat surat resmi atau surat dinas pada umumnya. Anda perlu memiliki pemahaman khusus mengenai regulasi penulisan surat resmi, misalnya seperti dalam hal penomoran surat resmi, struktur, serta penggunaan istilah-istilah tertentu di dalamnya. Untuk mempermudah pemahaman Anda, simak penjelasan berikut tentang cara membuat surat keputusan:\n\n\n\n1. Bagian pembuka\n\n\n\nPada bagian pembuka dan awalan surat, perlu dicantumkan kop atau kepala surat dan kalimat pembuka.&nbsp;\n\n\n\nSama seperti surat resmi pada umumnya, surat keputusan juga perlu memiliki kop untuk menunjukkan identitas dan formalitas. Bagian ini berisi informasi nama organisasi\/instansi, logo, nomor telepon, dan alamat.&nbsp;\n\n\n\nSetelah itu, tuliskan konsideran yang diawali kalimat \u201cmembaca,\u201d; \u201cmenimbang,\u201d; dan sebagainya seperti yang sudah disebutkan di atas.&nbsp;\n\n\n\n2. Bagian isi\n\n\n\nSetelah bagian pembuka selesai, cantumkan tujuan Anda membuat SK dengan kalimat yang lugas dan efektif. Bagian isi atau desideratum ini perlu jelas penulisannya agar pihak yang dituju tidak salah paham dan dapat segera melaksanakan perintah atau arahan dari pengirim.&nbsp;\n\n\n\nGunakan kalimat sesuai Ejaan yang Disempurnakan (EYD) dan bahasa Indonesia baku.&nbsp;\n\n\n\n3. Bagian penutup&nbsp;\n\n\n\nPada penutup ini, Anda bisa menuliskan bahwa ada kemungkinan antisipasi bila terjadi kekeliruan atau perubahan keputusan yang telah dibuat. Namun, bagian ini biasanya jarang dituliskan.&nbsp;\n\n\n\nJadi, pastikan landasan hukum dan tujuan Anda sudah jelas agar tidak perlu lagi melakukan perubahan perintah kepada pihak yang dituju.\n\n\n\n4. Tembusan\n\n\n\nSK umumnya selalu diikuti dengan tembusan karena penulisan surat ini menyangkut banyak pihak. Dengan begitu, pihak-pihak tersebut perlu diberitahu mengenai adanya kebijakan baru agar informasi bisa tersebar merata.&nbsp;\n\n\n\nDemikianlah beberapa informasi terkait pengertian, unsur-unsur, fungsi, contoh, hingga cara pembuatan surat keputusan yang bisa Anda terapkan. Pastikan Anda memiliki landasan hukum yang kuat sebelum menuliskan SK sehingga informasi yang diberikan bersifat mengikat dan dapat dibuktikan kredibilitasnya.&nbsp;\n","link":"https:\/\/privy.id\/blog\/contoh-surat-keputusan\/","banner":"https:\/\/prod-blog.privy.id\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/Contoh-Surat-Keputusan.jpeg","date":"2023-05-29"}